Kisah Dan Sejarah Masa Pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq

473 views

Zofaytexaw.comAbu Bakar ash Sidiq Khulafaur Rasyidin adalah salah satu orang yang dipercaya sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW. Setelah Masa Pemerintahan Nabi Muhammad SAW selesai, Abu Bakar As-Shiddiq terpilihh menjadi pemimpin islam berikutnya pada saat itu.

Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasul, maka Abu Bakar disebut Khalifah Rasulullah (Pengganti Rasul). Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan.

Seperti dilansir dari kumpulanmakalah.com, Proses pembaitan Abu Bakar sebagai khalifah ternyata tidak sepenuhnya mulus karena ada beberapa orang yang belum memberikan ikrar seperti Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, Fadl bin al-Abbas, Zubair bin al-Awwam bin al-As, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amir, Salman al-farisi, Abu Zar al-Gifari, Ammar bin Yasir, Bara’bin Azib dan Ubai bin Ka’ab. Telah terjadi pertemuan sebagian kecil kaum Anshar dengan Ali bin Abi Thalib di rumah Fatimah mereka bermaksud membaiat Ali, dengan anggapan Ali lebih patut menjadi khalifah karena Ali berasal dari Bani Hasyim yang berarti Ahlulbait Rasulullah saw.[15]

Keengganan Ali bin Abi Thalib serta kemungkinan adanya segelintir kaum Muhajirin dari Bani Hasyim ditepis sebagian ahli sejarah dengan kesaksian Sa’ad bin Zaid tentang tidak adanya orang yang tertinggal dalam proses pembaitan Abu Bakar sebagai khalifah.[16]
Setelah Abu Bakat terpilih menjadi khalifah, Abu Bakar kemudian menyampaikan pidato yang memuat pernyataan antara, bahwa :
1.      Dia mengakui[17] bahwa dirinya bukanlah orang terbaik.
2.      Dia harus dibantu hanya selama dirinya berbuat baik dan harus  diluruskan bila dia berbuat tidak baik (in asa’tu).
3.      Dia akan memberikan hak setiap orang tanpa membedakan yang kuat  dengan yang lemah.
4.      Ketaatan kepadanya tergantung pada ketaatannya kepada Allah.
Dijumpai fenomena menarik dari proses pembaitan Abu Bakar, bahwa isu menjaga persatuan dan menghindarkan perpecahan di kalangan umat Islam saat itu menjadi argumentasi Abu Bakar untuk meyakinkan kekhalifahannya. Argumentasi ini cukup efektif karena kondisi sosial umat Islam saat itu di ambang krisis persatuan. Hal itu ditandai dengan munculnya orang-orang murtad, keengganan sejumlah suku membayar zakat dan pajak.

C. Perkembangan Islam Masa Pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq

Masa kakhalifahan Abu Bakar merupakan masa kritis perjalanan syiar Islam karena dihadapkan sejumlah masalah seperti ridat atau kemurtadan dan ketidaksetiaan. Beberapa anggota suku muslim menolak untuk membayar zakat kepada khalifah untuk Baitul Mal (perbendaharaan publik). Kemudian masalah berikutnya adalah munculnya beberapa kafir yang menyatakan dirinya sebagai Nabi, serta sejumlah pemberontakan-pemberontakan kecil yang merupakan bibit-bibit perpecahan.[18]
Semasa hidupnya, Rasulullah saw pernah mengirimkan satu ekspedisi ke Syria di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, putera dari Zaid bin Harits ra yang gugur pada perang Mut’ah di tahun 8 Hijriah. Pengiriman ekspedisi ini sempat diusulkan para sahabat untuk ditarik kembali ke Madinah guna membantu mengatasi masalah dalam negeri seperti memerangi orang-orang murtad, orang-orang yang enggan membayar zakat dan memadamkan pemberontakan-pemberontakan kecil.
Namun usulan ini ditolak dengan tegas oleh Abu bakar karena pengiriman ekspedisi ini merupakan amanah dari Rasulullah saw. Sikap tegas yang ditunjukkan oleh Abu Bakar kelak membuahkan hikmah tersendiri bagi usaha penyelesaian konflik sosial di dalam negeri.
Selama 40 hari berperang melawan orang-orang Romawi di Syria, akhirnya ekspedisi usamah meraih kemenangan. Keberhasilan ini menimbulkan opini positif bahwa Islam tetap jaya, tidak akan hilang seiring dengan wafatnya Rasulullah saw. Akhirnya satu persatu suku-suku yang semula meninggalkan Islam kembali memeluk Islam dan loyal terhadap kekhalifahan Abu Bakar al-Shiddiq.
Kini persoalan dalam negeri yang terakhir dan perlu segera dipadamkan adalah pemberontakan yang digerakkan oleh nabi-nabi palsu seperti Aswad ‘Ansi dari Yaman, Tsulaiha dari suku bani Asad di Arab Utara, Sajah binti al Harits di Suwaid,dan Musailamah al-Kadzdzab, anggota suku Arab Tengah.
Abu Bakar mengirim Khalid bin Walid ra untuk manumpas pemberontakan-pemberontakan tersebut dan berhasil memadamkannya. Demikian juga terhadap gerakan kemurtadan dan suku-suku yang enggan membayar zakat dapat diselesaikan dengan baik oleh Abu Bakar melalui perantaraan panglima perangnya, Khalid bin Walid ra.
Setelah permasalahan besar dalam negeri dapat diatasi dengan baik, abu Bakar memfokuskan pada kebijakan luar negeri yakni menyelamatnya suku-suku Arab dari penganiayaan pemerintahan Persia. Untuk misi ini, Abu bakar kembali mengirimkan Khalid bin Walid ra dengan pasukannya ke Iraq dan akhirnya bertempur dengan tentara Persia di Hafir, pada tahun 12 H (633 M).[19]
Pada 15 Dzulqa’idah 12 H, Khalid bin Walid ra, mengalahkan musuhnya secara total dan menduduki seluruh Iraq Selatan. Ekspedisi berikutnya adalah ke Syria membantu perjuangan Usamah bin Zaid untuk mengamankan daerah perbatasan dari serangan orang-orang Romawi. Karena perbatasan merupakan jalur-jalur perdagangan bangsa Arab.
Sekitar bulan Rabi’uts-Tsani 13 H yang bertepatan dengan 31 Juli 634 M. Akhirnya kekaisaran Romawi dapat ditumbangkan melalui perang Ajnadin.[20] Padahal dari sekian banyak pertempuran-pertempuran pasukan muslim jauh lebih kecil dari pasukan lawan. Keberhasilan pasukan muslim mengalahkan pasukan lawan tidak terlepas dari spiritual yang tinggi kaum muslimin seperti tersirat dalam opsi yang disampaikan Khalid bin Walid ra maupun utusan-utusan muslim lainnya kepada Kaisar Persia dan Panglima Perang Romawi.
Apa yang dilukiskan Khalid bin Walid ra tentang kondisi mental spritual pasukan muslim memang tepat, karena mati syahid adalah dambaan setiap muslim dengan ganjaran surga dan kekal didalamnya, apalagi kaum muslimin saat itu yang berada dalam barisan pasukan muslim memiliki kualitas keimanan yang tinggi dengan kesadaran akhirat yangtak tertandingi, sehingga kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan melainkan sesuatu yang didambakan karena yakin akan adanya hari perhitungan atas segala amal yang diperbuat dan kehidupan akhirat setelah kehidupan di dunia ini.
Di saat kemenangan demi kemenangan diraih pasukan muslim di Ajnadin. Abu Bakar dikabarkan jatuh sakit tepatnya pada tanggal 7 Jumadil Akhir, 13 H, dan akhirnya meninggal dunia setelah menderita sakit selama dua minggu. Beliau meninggal dunia pada usia 61 tahun pada hari Selasa, 22 Jumadil akhir, 13 H (23 Agustus 634 M).[21]
Meskipun Abu Bakar menjabat khalifah relatif singkat yakni dua tahun tiga bulan, beliau berhasil membina dan mempertahankan ekstensi persatuan dan kesatuan umat Islam yang berdomisili di berbagai suku dan bangsa. Wibawa umat Islam pun semakin terangkat dengan ditaklukannya dua imperium terbesar dunia saat itu, yaitu Romawi dan Persia. Kedua imperium ini menjadi poros kebudayaan dan peradaban dunia. Karena penaklukan atau peletakan kedaulatan umat Islam di kedua imperium itu menjadi aset yang sangat berpengaruh bagi pembangunan peradaban dunia Islami. Hal itu terbukti dengan peradaban Islam yang pernah jaya berabad-abad lamanya di Jaziarh Arab dan benua Eropa.
Implikasi sejarah semacam ini tentu tidak teranalisis pada masa kekhalifahan Abu Bakar, karena beliau berperang bukan dengan tujuan kekuasaan melainkan semata-mata menegakkan syariat Islam dan menciptakan kedamaian di mana pun umat Islam berada, pekerjaan besar semacam ini tentu menguras energi tenaga dan pikiran yang sangat besar. Usia Abu Bakar yang mencapai 60 tahun ketika dilantik menjadi khalifah, dan kerja keras yang dilakukannya beresiko bagi kesehatan fisiknya, Abu Bakar pun jatuh sakit dan meninggal dunia.
Prestasi lainnya adalah upaya pengumpulan Qur’an. Dari dialog Umar bin khattab dengan Abu bakar bahwa begitu banyak para huffaz Qur’an yang syahid di medan pertempuran sehingga dikhawatirkan oleh Umar dapat merusak kelestarian Qur’an itu sendiri di masa yang akan datang.
Melalui kesaksian sejumlah sahabat yang pernah mendapat pengajaran Al-Qur’an dari Rasulullah saw, dikumpulkan dan disalin kembali oleh Zaid bin Tsabit ra atas instruksi khalifah Abu Bakar. Akhirnya Qur’an terhimpun dalam bentuk mushaf yang dikenal dengan nama Mushaf al-Imam (Mushaf Usman).[22]
Dari sekian prestasi yang terukir pada masa kekhalifahan Abu Bakar, maka jasa terbesar Abu Bakar yang dapat dinikmati oleh peradaban manusia sekarang adalah usaha pengumpulan Qur’an yang kelak melahirkan mushaf Usmani dan selanjutnya menjadi acuan dasar dalam penyalinan ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga menjadi kitab Al-Qur’an yang menjadi pedoman utama kehidupan umat Islam bahkan bagi seluruh umat yang ada di permukaan bumi ini.
Baca Juga :  Kisah Dan Sejarah Dinasti Bani Abbasiyah Lengkap

Tags: #abu bakar #abu bakar as shiddi #abu bakar as-siddiq #abu bakar ash siddiq #asal usul abu bakar as shiddiq #berita islami masa kini #biografi abu bakar #biografi sahabat abu bakar #dokumenter abu bakar #kenapa makam nabi berdampingan dengan makan abu bakar dan umar #kepemimpinan abu bakar #khalifah abu bakar #kisah #kisah abu bakar #kisah abu bakar as-siddiq #kisah asal usul abu bakar as shiddiq #kisah nabi #kisah nabi muhammad #kisah sahabat nabi #makam abu bakar #pidato abu bakar #saidina abu bakar as siddiq #sejarah #sejarah islam #sejarah sahabat nabi #wasiat saidina abu bakar